Hubungan Khusus yang Terus Menguat
India dan Rusia memiliki persahabatan strategis sejak era Soviet. Oleh karena itu, Putin memulai kunjungan dua hari ke Delhi untuk bertemu Modi dan menghadiri KTT tahunan kedua negara. Selain itu, keduanya siap menandatangani banyak kesepakatan baru.
Secara ekonomi, India menjadi pasar yang sangat menjanjikan. Dengan pertumbuhan ekonomi lebih dari 8% serta populasi hampir 1,5 miliar jiwa, India menawarkan peluang besar bagi komoditas Rusia terutama minyak. Sebelumnya, minyak Rusia hanya menyumbang 2,5% dari total impor India. Namun, setelah perang Ukraina, angka itu meningkat tajam hingga 35%, karena diskon harga akibat sanksi Barat.
Namun, Amerika Serikat justru merasa terganggu. Bahkan, pemerintahan Donald Trump meningkatkan tarif 25% pada produk India. Alasannya, India dianggap membantu pendanaan perang Kremlin.
Di sisi lain, penjualan senjata tetap menjadi pilar utama hubungan keduanya. India masih mengandalkan jet tempur Sukhoi-30 dan sistem S-400. Karena itu, rencana pembelian Su-57 dan S-500 juga mencuri perhatian.
Selain itu, Rusia yang terdampak krisis tenaga kerja juga mencari pekerja terampil dari India. Semua kepentingan itu memperlihatkan mengapa Moskow membutuhkan India.
| Aspek Kepentingan | Rusia | India |
|---|---|---|
| Minyak | Menjaga pasar di Asia | Mendapat harga murah |
| Pertahanan | Ekspor teknologi militer | Modernisasi militer |
| Geopolitik | Menunjukkan tak terisolasi | Menjaga otonomi strategi |
| Tenaga Kerja | Perlu pekerja terampil | Peluang kerja ke luar negeri |
Selain ekonomi, politik global juga memainkan peran besar. Putin ingin menunjukkan bahwa Rusia tidak terisolasi oleh Eropa dan NATO. Kunjungan ke China dan India menegaskan dukungan kuat terhadap tatanan dunia multipolar.
India Menguji Otonomi Strategisnya
Kunjungan ini merupakan ujian besar bagi strategic autonomy India. Modi selama ini mempertahankan hubungan baik dengan Rusia sekaligus Barat. Walaupun Barat menekan India untuk mengkritik invasi Rusia, Modi tetap menekankan dialog sebagai solusi terbaik.
Masalahnya, hubungan India-AS semakin buruk karena tarif dagang. Selain itu, Eropa pun menekan India melalui kritik diplomatik. Maka, Modi harus berhati-hati agar penguatan hubungan dengan Rusia tidak merusak negosiasi dengan Barat.
Meskipun begitu, Modi ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa Putin masih menjadi sekutu penting. Secara domestik, hal itu juga menguatkan citranya sebagai pemimpin yang mandiri dan kuat dalam diplomasi global.
Perdagangan Bilateral Harus Lebih Seimbang
Perdagangan kedua negara meningkat drastis menjadi $68,72 miliar pada 2025. Tetapi, kenaikan itu tidak seimbang karena minyak mendominasi dan menguntungkan Rusia.
Karena India mulai mengurangi pembelian minyak demi menghindari sanksi Washington, maka kedua negara harus mencari sektor baru untuk bekerja sama. Bidang defence memang pilihan paling mudah. Walaupun persentase impor senjata dari Rusia menurun menjadi 36%, ketergantungan platform militer India masih besar.
Contohnya, sistem S-400 terbukti tak tergantikan dalam konflik India dengan Pakistan. Akan tetapi, keterlambatan produksi akibat perang Ukraina membuat India meminta jaminan kepastian pengiriman.
Selain itu, India ingin barang konsumsi seperti smartphone, makanan laut, dan pakaian lebih mudah masuk ke pasar Rusia. Dengan begitu, defisit perdagangan dapat berkurang.
Diplomasi Minyak dan Pertahanan yang Menentukan Masa Depan
Secara keseluruhan, kunjungan Putin bukan sekadar reuni diplomatik. Ini adalah negosiasi penting mengenai risiko global, rantai pasok, dan ketahanan ekonomi.
Jika hanya menghasilkan kesepakatan minyak dan senjata, hasilnya memang moderat. Tetapi, jika menyentuh kerja sama ekonomi lebih luas, kedua negara bisa mengubah peta geopolitik Asia.
Melalui kunjungan ini, Putin ingin mempertahankan pasar strategis dan pengaruh regional. Sementara itu, Modi ingin menghadirkan keseimbangan sempurna antara kemandirian diplomasi dan kepentingan ekonomi India di masa depan.
Dengan demikian, hubungan Delhi–Moskow akan terus memainkan peran besar dalam dunia multipolar yang semakin kompetitif.